Jumat, 19 Desember 2008
MASA KECILKU PENGORBANAN IBUKU
Sebuah keluarga lengkap selalu terdiri atas ayah, ibu, dan anak. Namun, Miyuki Inoue merasakan hidup sebagai keluarga tidak lengkap. Ia hanya hidup bersama ibunya, Michiyo Inoue. Ayahnya meninggal ketika ia masih dalam rahim ibunya. Ia dilahirkan dalam keadaan prematur. Bobot lahirnya cuma 500 g. Karena lama dirawat di dalam inkubator, ia mengalami kebutaan. Tetapi, Tuhan Maha Pengasih. Ketika SMP ia menjadi juara nasional mengarang SLB tingkat SMP di Jepang. Ketika berusia 15 tahun ia menulis buku Aku Terlahir 500 gr dan Buta. Ibunya juga berkisah dalam buku Hiduplah Anakku Ibu Mendampingimu. Kedua buku terbitan Elex Media Komputindo tersebut kami nukil untuk mengisahkan perjuangan hidupnya bersama Sang Ibu.
PENUKIL : I Gede Agung Yudhana
Saat aku lahir, 21 Agustus 1984, sepertinya aku menggantikan ayahku, Tsutomu, yang meninggal dunia pada musim panas 1984 (ketika itu usia ayahku 48 tahun). Ayah wafat akibat kecelakaan lalu lintas. Berita sedih itu diperoleh ibuku dari teman ayah pada 8 Juli 1984.
Ayahku "pergi" saat aku belum sempat bertemu dan bercanda dengannya. Saat itu aku masih berada di dalam kandungan ibuku yang usianya baru 6 bulan dan ibuku berusia 36 tahun.
Karena ayah dan ibu belum menikah dan hubungan mereka tidak direstui keluarga ayahku, ibuku kebingungan. Maksud hati ingin sekali berdoa di sisi jenazah orang yang dikasihinya, namun keadaan tidak memungkinkan. Dalam kebingungan itu, ibuku merasakan perutnya sakit dan semakin sakit. Ia berusaha memegangi perutnya sambil menunduk. Tapi tetap saja sakitnya tak kunjung reda.
Tiba-tiba ibuku merasakan ada yang mengalir hangat di bawah sana. Ternyata air ketuban yang melindungiku selama di rahim sudah keluar. Ia segera dilarikan ke RS Universitas Kurume, Fukuoka, dan masuk ke ruang ICU. Kondisi yang memburuk membuat dokter menyarankan agar aku segera digugurkan. Kalau tidak, kesehatan ibu yang jadi taruhannya.
"Biasanya seorang bayi harus berada di dalam rahim ibunya selama 40 minggu, tetapi anak Anda baru memasuki minggu ke-20. Jika tidak segera dilahirkan, akan membahayakan Anda. Tetapi jika Anda melahirkannya sekarang kemungkinan besar dia tidak bisa ditolong. Kalau pun bisa bertahan, dia akan cacat," kata dokter, seperti yang diceritakan ibuku.
Sesaat setelah mendengarkan nasihat dokter, ibuku terdiam. Dia lalu berkata kepada ayah yang sudah meninggal. "Suamiku, tolong jangan bawa pergi anak ini. Setelah kau tidak ada, anak inilah yang akan menemaniku. Aku mohon! Jangan bawa anak ini." Ibu berdoa sepenuh hati.
Rupanya Tuhan memberikan kasihnya. Tanggal 21 Agustus 1984 malam aku lahir meski dalam keadaan koma. Beratku hanya 500 g, seperenam dari berat bayi normal. Kepalaku sebesar telur, tubuhku hanya sepanjang pena. Pinggulku sebesar ibu jari orang dewasa. Jemariku pun sekurus tusuk gigi. Tubuhku berwarna coklat, tidak seperti warna bayi pada umumnya.
Begitu kecilnya aku hingga orang dewasa bisa menggenggamku. Begitu dilahirkan aku langsung dipindahkan ke inkubator. Sebuah masker oksigen terpasang di hidungku dan sebuah selang di mulutku. Selang infus juga terpasang di dadaku. Ibuku menangis melihat tubuhku begitu kecil. Ia pernah berkata bahwa ia tidak bisa berhenti menangis ketika melihatku seperti itu.
"Maafkan ibu! Maafkan ibu, Nak," tangisnya merasa bersalah melahirkanku terlalu cepat.
"Tolong hiduplah! Teruslah hidup anakku. Ayah pasti akan menolongmu," lanjut ibu sambil melihatku.
Susu yang pertama kali kuminum adalah susu dari selang yang dimasukkan ke mulutku. Itu pun hanya 1 cc. Ibuku gembira melihatku minum susu walaupun hanya sedikit.
Suatu kali ibuku memasukkan tangannya ke dalam inkubator. Ibu menyentuh tanganku seakan-akan mencoba memberi semangat hidup kepadaku. Ketika ibu menyentuhkan tangannya ke atas jemari tanganku, aku langsung menggenggam tangannya.
"Teruslah hidup!" Itulah kalimat yang sering diucapkan ibu saat menjengukku. Kalimat yang menjadi kekuatanku untuk terus bertahan hidup.
Karena kondisi ibu sudah pulih, dia keluar dari rumah sakit lebih dulu. Setiap hari ibu datang ke rumah sakit membawa ASI untukku. Ia menemaniku minum susu.
Suatu hari, seorang suster mencabut bagian alat elektrokardiogram dari dadaku. Tapi ia mencabut plesternya terlalu kuat sehingga sebagian kecil kulitku ikut tertarik dan menempel di plester. Dadaku berdarah. Kejadian ini meninggalkan bekas luka yang sampai sekarang masih ada di dadaku.
BANYAK PENYAKIT KUDERITA
Setelah aku bisa minum susu 6 cc, pertumbuhan fisikku tampak nyata. Mataku mulai terbuka dan aku seperti bayi normal. "Waktu pertama kali melihat matamu terbuka, matamu tampak jernih sekali, Kamu sungguh lucu," begitu cerita ibuku.
Keinginan supaya aku bertahan hidup selama mungkin membuatnya semakin tegar. Ibu mencoba menyampaikannya kepadaku dengan menggenggam tanganku erat supaya aku tidak pergi mengikuti ayah.
Suatu siang, salah seorang dokter mendatangi ibu yang sedang bercanda denganku.
"Ibu, saya menyarankan agar Miyuki dipindahkan ke Rumah Sakit Universitas Fukuoka. Saya khawatir matanya rusak karena dia terlalu lama berada di dalam inkubator. Inkubator ini dialiri banyak oksigen yang bisa membuatnya terkena ROP (retinopathy of prematurity), penyakit yang gambang membutakan bayi prematur," jelas dokter yang menanganiku itu.
Celakanya, RS Universitas Fukuoka sangat jauh letaknya dari RS Kurume. Ibu takut kalau terjadi apa-apa padaku selama perjalanan ke sana. Akhirnya, aku dirawat di RS Santa Maria, yang letaknya lumayan dekat dari RS Kurume.
Setelah sebulan dirawat, dokter yang merawatku, dr. Seichi Fukuda menjelaskan kepada ibuku tentang penyakit yang kuderita. Dia satu per satu menyebutkan penyakit yang kuderita, yaitu kekurangan kalsium dalam darah, tingginya kadar bilirubin dalam darah, anemia, rachitis, dan ROP. Kemungkinan besar aku akan mati kalau salah satu penyakit itu semakin parah.
Selama dirawat, aku memang beberapa kali hampir mati. Tapi dr. Fukuda dengan sekuat tenaga berusaha menyelamatkanku. Ibuku juga tidak bosan-bosannya menungguiku dan menyemangatiku.
Ibu bercerita, "Kalau ibu menangis, kamu sering menggenggam tangan ibu seolah-olah berkata, 'Ibu jangan menangis, aku akan berjuang.'" Dr. Fukuda yang kemudian menjadi teman bicara ibu juga menghiburnya. "Ibu, bagi Miyuki-Chan, dorongan Anda sangatlah tak ternilai. Balaian Anda akan menentramkan hatinya. Ucapan Anda pasti juga dia dengar."
AKU BERTEKAT TIDAK MENANGIS
usiaku empat bulan, dokter mengizinkan aku keluar dari inkubator. Betapa senangnya ibu. Itulah pertama kali aku berada dalam pelukannya.
terkejut ketika menggendongku, karena tubuhku sangat ringan. Dia kembali menangis. Tapi kali ini tangis bahagia. "Anakku, hebat sekali kamu, seringan ini tapi masih bisa hidup sampai sekarang. Teruslah berjuang."
Fukuda datang menghampiri kami dan berkata, "Ibu, sekarang waktunya minum susu. Ibu sudah menunggu saat ini sejak lama 'kan? Nah ini waktunya Ibu memberikan ASI langsung pada Miyuki dengan tangan sendiri. Coba peluk dia Bu. Dan ini juga pertama kalinya Miyuki merasakan pelukan ibunya."
Dokter memberikan botol susu kepada ibu. "Dokter dan suster sangat khawatir karena itu pertama kalinya kamu minum susu tidak dengan selang hidung. Ternyata kamu begitu lahap meneguk susu dan tanpa disadari 50 cc langsung habis. Kamu tentu senang minum pertama kalinya dengan mulutmu sendiri," tutur ibuku.
Lima bulan setelah aku lahir, akhirnya beratku naik menjadi 800 g. Setelah itu seminggu sekali aku dibawa ke RS Universitas Fukuoka untuk diperiksa.
Setelah menjalani pemeriksaan di RS Universitas Fukuoka, aku divonis cacat mata oleh para dokter. Dengan perasaan pedih dan putus asa, ibu melangkahkan kaki meninggalkan ruangan dokter. Air matanya terus mengalir hingga badannya bergetar. Pikirannya terus melayang memikirkan masa depanku.
Keesokan paginya, ibuku bertekat tidak menangis kala menengokku. Ibu menyadari, kalau menangis di depanku justru akan menurunkan semangat hidupku meskipun aku tidak melihatnya. Di RS ibu menyapaku sambil mengelus-elus kepalaku. "Selamat pagi Miyuki-Chan anakku. Lihatlah ibu tidak menangis. Ibu bangga padamu. Ayo, berjuanglah Anakku."
Enam bulan setelah aku lahir, beratku akhirnya mencapai 900 g. Ibu mulai memikirkan cara membesarkanku.
Suatu hari, ibu mengunjungi SLB di kota Yanagawa, Provinsi Fukuoka. Ibu menemui seorang guru di SLB dan minta diperkenalkan kepada seorang ibu yang paling baik untuk merawat anaknya yang tunanetra. Ibu bercerita tentang aku dan yang sudah dilakukannya. Ibu juga mengutarakan bahwa ia tidak tahu apa yang harus diperbuat.
"Anda sudah memulainya dengan memikirkan yang terbaik bagi anak Anda. Tolong lupakan kalau dia tidak bisa melihat. Jadikan tangannya sebagai pengganti mata. Tuntunlah tangannya untuk menyentuh berbagai benda. Masa depan seorang anak tergantung komitmen otangtuanya," ujar guru itu menyemangati ibuku.
Tujuh bulan setelah aku dirawat di RS, pada 4 April 1985, aku diizinkan untuk meninggalkan RS Santa Maria. Beratku waktu itu 1.800 g.
Dua puluh hari setelah pulang dari RS, beratku bertambah menjadi 2.200 g. Aku juga mulai bisa minum susu sebanyak 70 cc.
Suatu hari, ibu membawaku ke taman. Di sana ibuku sempat berbincang dengan ibu lain soal kondisiku. Di antara ibu itu ada yang berujar menyakitkan hati. "Nanti dia tidak bisa apa-apa dong kalau tidak bisa
Ibu langsung membalas, "Dia tidak akan merepotkan Anda. Tolong jangan turut campur hal yang bukan urusan Anda!"
MENGENAL TUMBUHAN DAN HEWAN
Untuk membiayai hidup kami, ibuku membuka restoran. Nodate namanya. Walaupun hanya berdua, biaya hidup kami lumayan tinggi. Ini karena aku membutuhkan banyak biaya, tidak seperti anak normal.
Ketika aku mulai bisa berjalan, semakin sulit bagi ibuku untuk meninggalkan rumah karena aku selalu ingin berjalan. Tidak bisa diam. Karenanya, ibu minta tolong pada seorang tetangga untuk menjagaku di rumah saat ibu bekerja di restoran. Ibu tak ingin aku tertimpa masalah.
Setelah bekerja sampai malam, ibu mengajakku bermain di pagi harinya, walau pun ia masih lelah. Jika tidak hujan, ia suka membawaku ke taman. Di sana ibu membiarkanku bermain dengan bebas. Dia tidak menolongku jika aku menabrak pohon, jatuh tersandung batu, atau menangis. Ibuku hanya mengawasiku dari jauh. "Kalau ibu memanjakanmu seperti ibu lain, kamu lama-lama takut bertindak sendiri tanpa pertolonganku. Sedangkan ibu ingin anakku mandiri," tuturnya. "Walaupun kamu tunanetra kamu harus bisa seperti orang biasa. Ibu yakin, Tuhan memberiku anak tunanetra bukan untuk ditangisi, tapi disyukuri."
Ketika usiaku tiga tahun, aku masuk TK di dekat rumah. Inilah awal hidup bersama orang lain. Ibu harus mengantar dan menjemputku dari sekolah. Akhirnya ibu menutup restorannya dan membuka usaha bento (nasi kotak). Demi diriku, dia menutup restoran yang susah payah dia dirikan.
Rumah makan ini dengan terpaksa kami tutup. Terima kasih banyak atas kunjungan Anda selama ini. Tulisan ini ditempel ibuku di pintu kayu restoran yang setiap hari dilap. Setelah menempel tulisan itu ibu mengunci pintu dan duduk di counter. Sambil melihat sekeliling, air mata ibuku mengalir di pipi. "Maafkan aku, ini semua kulakukan karena harus mengurus anak. Aku tak ingin Miyuki kesepian. Aku ingin menjaganya," kata ibuku meminta maaf pada piring, mangkuk, gelas, panci yang selama ini telah ikut membantunya mencari nafkah. Ia pasti kesepian, karena tidak lagi bisa bertemu dengan banyak orang seperti ketika masih membuka restoran.
Setiap hari, ibuku bangun pukul 04.00 untuk memasak. Dia melakukannya sendirian. Dia tidak pernah mengeluh capek meskipun harus menyiapkan 50 - 70 boks makanan. Bisa kubayangkan, saat itu pasti ibu lelah sekali. Setelah itu, dia membangunkanku, menyuruhku makan, dan mengantarku ke sekolah.
Selama aku berada di sekolah, ibu mengantarkan makanan ke pelanggan. Dr. Fukuda dan suster-suster dari RS Santa Maria juga memesan makanan buatan ibu. Dr. Fukuda pernah bilang kalau masakan ibu sangat enak.
Jika jam sekolah telah usai dan ibu belum menjemputku, guruku mengantarku pulang ke rumah.
Sepulang mengantar semua makanan, ibu mengajakku makan siang. Saat makan siang itu ibu bercerita tentang pertemuannya dengan pelanggannya. Kalau ada pemesan yang ternyata tak bisa ditemuinya, ia akan menawarkan makanan itu ke orang lain. Kasihan ibu, harus ke sana kemari menawarkan makanan. Selesai makan, ibu akan mengajakku bermain.
Menjelang sore, ibu pergi berbelanja bahan makanan untuk esok hari. Ibuku biasanya berbelanja sambil menggendongku. Tapi biasa pula, aku sendirian menjaga rumah selama ibu berbelanja. Ibu sudah mendidikku mandiri sejak kecil. Selama ibu tidak ada di rumah, aku akan tidur, dan setelah bangun berusaha membantu ibu.
Ibu pernah cerita, "Sepulang sekolah kamu pernah bertanya, 'Ibu, Miyuki itu tidak bisa melihat ya?' Ibu terkejut sekali dan langsung Tanya, 'Memangnya kenapa?' Kamu lalu menjawab, 'Habis waktu aku bilang mau main ayunan, teman-teman bilang bahaya, soalnya Miyuki tidak bisa melihat."
Aku tunanetra. Tetapi aku sendiri tidak tahu bagaimanakah tidak dapat melihat itu dan seperti apakah melihat itu. Waktu aku tanyakan hal itu kepada ibu. "Miyuki-Chan, matamu tidak bisa melihat, tetapi kamu bisa melakukan hal-hal yang bisa dilakukan teman-temanmu. Makanya, kamu jauh lebih hebat daripada mereka," jawab ibu membesarkan hatiku.
Suatu ketika ada perlombaan olahraga di sekolah. Suatu perlombaan yang mengharuskan seorang ayah berlari dengan menggendong anaknya di punggung. Waktu itu ibu bilang "Biar ibu yang menggendongmu". Tapi aku menjawab sambil menangis, "Aku mau ayah yang menggendongku." Hati ibu sedih sekali mendengarnya. Ibu memang pernah bercerita bahwa ayah sedang tugas, bekerja di tempat yang sangat jauh. Ibu berbohong karena waktu itu aku masih kecil dan tidak mengerti apa itu kematian.
Di sekolah ada skuter mainan milik sekolah. Tapi aku tidak bisa berebut untuk memainkannya di sekolah. Begitu aku mengatakannya kepada ibu, dia membawaku ke sekolah satu jam lebih cepat supaya bisa menaikinya. Ibu mengajariku cara mengendarainya dan akhirnya aku bisa melakukannya. Aku senang sekali.
Di rumah aku senang bermain dengan sayur dan buah. Bermacam sayur akan ditaruh ibu di lantai dan aku belajar mengingat semua sayur dan buah yang kupegang. "Mau dijilat, digigit, dipegang, dikupas, terserah kamu," kata ibu.
Dengan cara itu aku bisa mengenali sayur dan buah. Ibu juga suka menaruh bunga di kamar mandi. Dia sengaja meletakkannya di tempat yang bisa kuraih. Mulanya aku hanya menarik kelopak bunga atau mencabuti daunnya. Tapi lama-lama aku terlena dengan baunya dan mulai meraba-raba bunga itu. Inikah bunga? Aku langsung menyukainya.
Sekarang aku mengerti bunga itu indah. Ibu juga mengenalkan bau wangi suatu bunga, sehingga aku juga bisa mengenali bunga dari baunya. Ibu pun menjelaskan soal warna bunga. Ibu bahkan bercerita tentang bagaimana suatu tumbuhan tumbuh dari benih hingga menjadi tanaman dewasa atau pohon.
Setelah aku tahu banyak soal tanaman, aku juga diperkenalkan dengan binatang. Aku bahkan tidak takut menyentuh serangga, kodok, dan cacing.
AKU SENANG BERSEPEDA
Pada umumnya orangtua berpikir kalau anaknya tunanetra, ia harus melindungi dan membesarkan anaknya dengan cara khusus. Tapi ibu mencoba melupakan kalau aku tunanetra dan membesarkanku secara normal.
Ibuku ingin aku terjun ke dunia orang normal, dunia orang bisa melihat. Makanya dia berpikir lebih baik aku masuk SD biasa, supaya aku bisa belajar dan bergaul dengan mereka yang bisa melihat.
Namun, setelah aku dinyatakan lulus tes masuk sekolah biasa, ternyata ibuku bimbang. "Ibu ingat bahwa kelas 1 dan 2 adalah masa-masa paling penting dimana kamu mulai belajar menulis dan berhitung. Kalau tidak ada bahannya, terpaksa ibu datang ke sekolah setiap hari dan membacakan apa yang tertulis di papan tulis supaya kamu bisa belajar. Itu juga masa-masa yang sulit dijalani karena ibu bekerja. Ibu harus bisa berbagi waktu antara kamu dan pekerjaan," cerita ibu.
Akhirnya ibu menimbang ulang keputusannya. Ibu lalu menyekolahkanku ke SLB Negeri Fukuoka.
Jarak dari rumah ke sekolah cukup jauh. Dari rumah aku harus berjalan kaki selama 15 menit ke stasiun Hanabatake. Dari stasiun itu aku naik kereta selama 25 menit, turun di stasiun Asakura Kaido. Setelah turun, aku naik bus dan turun di halte keempat, halte SLB. Dari halte, aku harus berjalan kaki kira-kira 15 menit.
Akhirnya ibu memutuskan berhenti usaha bento dan mulai mengantar-jemputku. Ibu harus berganti pekerjaan, setelah mengumumkan kepada pelanggan kalau mau berhenti.
Suatu hari, setelah pelajaran usai, ibu guruku mendekatiku. Dia mengatakan, "Miyuki, kalau kamu sudah bisa mengetik Braille, coba tulis buku harian setiap hari di rumah. Pasti kami bisa menulis dan membacanya dengan lancar."
"Baik Bu, saya akan mencobanya. Saya ingin bisa membuat karangan." Jawabku. Hari itu Aku mulai mencoba menulis buku harian. Aku ingin melakukannya setiap hari.
Suatu kali di SLB bagian SMP diselenggarakan lomba mengarang. Ibuku mengajakku ikut menghadiri lomba itu. Padahal, sehari sebelumnya ibuku sakit, suhu badannya lumayan tinggi. Ibu memang bersemangat melakukan segala hal yang menyangkut kepentinganku. Kami pun pergi ke tempat lomba.
Setelah melihat betapa riuhnya lomba itu, aku punya impian dan harapan untuk memenangkan lomba mengarang tingkat provinsi, tingkat Kyusu, dan maju lagi ke tingkat nasional.
Suatu pagi, aku mendengar lagu tentang sepeda di siaran radio. Aku pun ingin naik sepeda. Ibu lalu berusaha mengajariku. Semula aku disuruh memegang sepeda. Lalu menuntunnya. Terus duduk di atas sadel. Ibu selalu menyemangatiku dan mengingatkan aku untuk percaya diri. Ketika aku mencoba mengayuh, aku terjatuh. Ibu tidak membantuku berdiri agar aku bisa mandiri.
Ketika aku bisa naik sepeda, ibu berlari ke arahku. "Kamu hebat, Miyuki. Kamu terus bersemangat dan berusaha sampai bisa."
Akhirnya setiap hari Minggu, aku dan ibu pergi ke lapangan untuk bersepeda. Menyenangkan. Bahagia rasanya merasakan begitu cepatnya aku bisa bergerak. Walaupun mendapat banyak luka, luka itu tak sebanding dengan kebahagiaanku bisa mengayuh sepeda.
Ketika aku duduk di kelas 4, ibuku memutuskan untuk bekerja kembali, meskipun cuma paruh waktu. Ibu bekerja dari pagi sampai pukul 14.00, sewaktu aku belajar di sekolah. Pada jam pulang sekolah ibu menjemputku untuk pulang. Kemudian ia melanjutkan bekerja di malam hari. Dari sore hari sampai tidur aku seorang diri di rumah.
Suatu hari, ibu membawaku ke taman. Di sana ibuku sempat berbincang dengan ibu lain soal kondisiku. Di antara ibu itu ada yang berujar menyakitkan hati. "Nanti dia tidak bisa apa-apa dong kalau tidak bisa melihat. Pasti dia akan merepotkan banyak orang. Di rumah, di sekolah, bahkan di tempat-tempat umum dia pasti merepotkan," begitu katanya.
Ibu langsung membalas, "Dia tidak akan merepotkan Anda. Tolong jangan turut campur hal yang bukan urusan Anda!"
AKU JUARA NASIONAL
Hari-hari kulalui bersama ibuku hingga akhirnya aku lulus SD. Lalu, aku masuk SMP. Di SMP wali kelasku Pak Shohei Kono, sarjana hukum dari Universitas Kyushu, yang juga tunanetra.
Pak Kono langsung menyuruhku mengikuti lomba mengarang pada semester pertamaku. Aku melaksanakannya.
Karangan selesai kutulis dalam dua hari, karangan tentang bagaimana aku lahir dan bagaimana ibu menyayangiku namun membesarkanku dengan keras. Lalu aku mengarang juga tentang bagaimana aku dan ibu sekarang. Hasilnya 5 - 6 halaman dengan huruf Braille. Aku harus menceritakan karangan ini di depan orang banyak. Karena itu, aku harus menghafalnya.
"Lumayan juga," komentar ibu setelah aku selesai membacakan karanganku.
Perlombaan mengarang intra sekolah diselenggarakan setelah ujian tengah semester. Aku latihan malam sebelumnya sampai pukul 22.00. Aku tak ingin kalah dari peserta lainnya.
Hari perlombaan tiba. Aku gugup. Ketika tiba giliranku, aku berbicara dengan cepat dan tepat, karena pembacaan karangan ada batas waktunya. Aku bercerita sepenuh hati, tentang ibu dan aku.
Ketika aku selesai bercerita, untuk sejenak suasana terasa hening. Lalu, suara tepuk tangan menyambutku. Rasanya semua suka ceritaku.
Setelah semua peserta menceritakan karangannya, tiba waktunya pengumuman pemenang. Jantungku berdebar.
"Miyuki Inoue." Pak guru menyebut namaku. Aku tak percaya, tapi aku senang. Selangkah impianku tercapai. Kelak aku harus bisa mencapainya lebih tinggi lagi. Tuhan ternyata mengabulkan tekadku. Dalam lomba di tingkat Kyushu, aku juga menang. Puncaknya, saat mengikuti lomba yang sama di tingkat nasional, aku pun meraih juara.
Kemenangan ini kupersembahkan untuk ibuku. Tanpanya, aku bukan siapa-siapa.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih atas umpan balik anda, Masukan dan kritikan terhadap Postingan ini sangat berarti bagi saya. Sekali lagi terima kasih.